SB Poso -Prosesi adat Pemombai oli dan Mabulere Peowa Keluarga Drs, Piet Inkiriwang, MM berlangsung di Rujab Bupati Poso Kamis, 4 September 2008, dihadiri Ketua Dewan Adat Poso Drs, J Santo, Tokoh-tokoh Adat Pamona, Tokoh-tokoh adat lainnya, Para Pejabat dilingkungan Pemdakab. Poso, Para Sesepuh Keluarga, handai Taulan serta para tamu undangan.
Prosesi Adat Pemombai oli menurut Drs, J Santo adalah merupakan pemberian harta kawin kepada calon isteri yang akan dinikahi, hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya pembuktian tanggungjawab yang besar yang akan dibebankan kepada calon pasangan pria terhadap kewajibannya menafkahi isterinya. Sedangkan Mabulere Peowa atau buka pinang merupakan simbol adat yang didalamnya terdapat bungkusan yang berisi sirih, pinang, plakat yang berisi perhiasan emas gelang, giwang, rantai dan sebagainya. Dalam hal ini Mabulere peowa dimaksudkan sebagai acara rembuk keluarga untuk menentukan layak tidaknya lamaran calon mempelai pria diterima atau tidak, dengan memperhatikan bungkusan yang dihantarkan.
Keseluruhan prosesi adat tersebut berlangsung sukses dan lancar yang dijalani Keluarga Piet Inkiriwang yang akan melangsungkan pernikahan anaknya Verna Gladys Inkiriwang ( Runner Up Miss Universe Tahun 2006 ) pada bulan September mendatang ini di Poso dan Manado.
Pada kesempatan tersebut Seluruh keluarga tampak ceria dan gembira telah melewati prosesi awal adat perkawinan Pamona tersebut. Teristimewa kepada Verna Gladys Inkiriwang yang tampak berseri-seri dan berbinar-binar telah mendapatkan petuah-petuah dari para sesepuh keluarga besar Inkiriwang - Pelealu dari Poso dan Manado.
Acara tersebut diwarnai juga dengan aksi budaya karambangan asal Sulewana yang menyuguhkan lagu-lagu bersyair Pamona yang mendapat applause para hadirin (rstmopo).
Jumat, 10 Oktober 2008
Kamis, 09 Oktober 2008
ALANGKAH INDAHNYA HIDUP DALAM KERUKUNAN
ALANGLAH INDAHNYA HIDUP DALAM KERUKUNAN
Oleh Rustomo
Sejarah mencatat, kerukunan juga bagian dari tiang penyangga kejayaan Majapahit pada abad 14 sehingga mampu mempersatukan Nusantara termasuk kalimantar Utara. Bahkan sampai jazirah Malaka kekuasaan kerajaan di pulau Jawa ini diakui.
Kendati para pejabat kerajaan memiliki keyakinan agama yang berbeda, namun mereka mampu berkonsolidasi membangun negara yang tangguh. Menurut manuskrip Cina Wang Taywan (Tahun.1369), Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang berwilayah luas, rakyatnya hidup makmur, para pemeluk agama yang berbeda hidup berdampingan dengan harmonis.
Kejayaan dan kemegahan negeri ini ternyata gemanya sampai pulau-pulau dan negeri yang jauh. Dengan kerukunan ini pula para pejuang bangsa mampu mengusir penjajah hanya dengan senjata sederhana seperti bambu runcing parang dan golok sekalipun harus berhadapan dengan senjata modern Barat.
Kerukunan inilah yang menciptakan atmosfir sorga ditengah-tengah keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Benarlah kalimat dalam bahasa jawa yang berbunyi : Rukun agawe sentosa (kerukunan membuat keteguhan).
Sungguh sangat memilukan kalau hari ini kita menemukan kenyataan keadaan negeri tercinta ini sangat jauh dari harapan dan impian para pendiri bangsa. Keadaan yang sangat kontradiksi dari cita-cita proklamasi dan kerinduan kusuma bangsa yang telah gugur.
Beberapa bagian dari negara ini telah terkoyak-koyak oleh sikap saling curiga, saling membenci sehingga berbuah pertikaian, pembunuhan teror dan dendam berkepanjangan. Hal ini bukan saja merusak tatanan hidup masyarakat hari ini, tetapi juga meletakkan dasar kehancuran bagi generasi penerus di waktu mendatang. Keadaan ini tidak boleh berlangsung terus.
Bila keadaan ini berlarut-larut maka akan menggiring lebih banyak orang keluar dari koridor hukum dan etika kemanusiaan serta menciptakan nuansa hidup “homo homini lupus”. Kita harus hentikan. Sebagai bagian komponen bangsa yang besar ini, kita harus mengambil langkah nyata guna mengembalikan bangsa ini kejalur yang benar.
Alangkah indahnya hidup rukun, Kalimat yang terdiri empat kata ini sangat manis terdengar, tetapi rasanya jauh dari jangkauan. Namun demikian kita bertekad untuk mewujudkan dan menterjemahkannya dalam perilaku secara benar. Mengaplikasikan dalam hidup ini secara kongkrit.
Sebab setiap kali kita merayakan hari besar yang dirayakan secara serimoniaal selalu disertai tema yang ditulis dengan huruf besar di belakang panggung dan mimbar atau dalam buku acara. Didalamnya memuat harapan dan ajakan. Tetapi setelah sekian banyak kita merayakan hari besar tersebut apakah yang kita peroleh melalui perayaan l dengan tema-tema indah tersebut ? Ironis sekali, walau peringatan hari besar yang kita rayakan diwarnai dengan tema, setumpuk pesan, tetapi, berlalu tanpa kesan. Tidak sedikit hari-hari perayaan datang tidak menambah dan pergi tidak mengurangi keimanan seseorang.
Semangat kerukunan sesungguhnya sebuah sebuah gelora pemulihan hubungan, tentunya didalamnya terdapat jiwa atau nafas kerukunan yang sejati. Kerukunan yang sejati, bahasa lain dari “kasih Sayang sesama” yang telah diterima dan diajarkan kepada umat beragama.
Sebagai anak Bangsa atau umat pilihan yang telah menerima berkat, seharusnya kita membagikan nafas dan jiwa kerukunan ini kepada semua manusia. Jadi kerukunan yang menciptakan perdamaian ini bukan sekedar karunia tetapi juga tanggung jawab. Kerukunan dengan orang lain bukan anugerah tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan, digumuli dan diwujudkan.
Sebagai anak Bangsa atau umat pilihan yang telah menerima berkat, seharusnya kita membagikan nafas dan jiwa kerukunan ini kepada semua manusia. Jadi kerukunan yang menciptakan perdamaian ini bukan sekedar karunia tetapi juga tanggung jawab. Kerukunan dengan orang lain bukan anugerah tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan, digumuli dan diwujudkan.
Sebagai anak Bangsa yang besar, harus menoreh kerukunan yang melukis perdamaian ditengah-tengah masyarakat yang majemuk ini. Tentu kerukunan dimulai dalam rumah tangga kita, melebar di lingkungan pekerjaan, antar sesama politisi serta antar sesama bangsa Indonesia yang majemuk dan yang sekarang kompleksitas masalahnya makin tinggi, yaitu dengan adanya krisis multidemensional atas bangsa ini. Kita tidak boleh hanya menantikan anugerah kerukunan tercipta tanpa usaha kita.
Meskipun dari dalam diri manusia pada umumnya dorongan egoisme, mau menang sendiri, melihat kepentingan sendiri tanpa melihat kepentingan bersama yang lebih besar. Dipihak lain kita dapati realitas adanya kekuatan-kekuatan yang berusaha mencabik-cabik keutuhan bangsa ini. Kerukunan ini menjadi tanggung jawab kita semua, tugas bersama, khususnya bagi anak-anak Bangsa.
Tetapi bagaimana ada kemakmuran tanpa kerukunan. Oleh sebab itu kerukunan harus merupakan jalan utama yang harus kita upayakan dengan seksama dan serius. Kerukunan harus dimulai dari tubuh kesadaran masyarakat, selanjutnya meluas sampai kepada semua komponen bangsa yang harus bahu membahu berkonsolidasi sinergi membangun untuk menjadi negara yang tangguh.
Rabu, 08 Oktober 2008
MELALUI SINTUWU MAROSO MEMBANGUN POSO
SB Poso - Sintuwu marorso merupakan konsep penting yang sejak dahulu membangun wilayah ini harus kembali diuji dan atau diaktifkan dalam konteks pasca konflik kekerasan Poso. Pengujian dan pengaktifan Sintuwu Maroso tidak dapat diwakilkan pada individu – individu yang ditokohkan sebagai representative golongan atau komunitas dan masyarakat, sebaliknya menuntut keterlibatan aktif seluruh individu dalam masyarakat.
Dengan mempercayai bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola dan membangun perdamaian dilingkungannya dengan memaksimalkan potensi dan energy positif yang dimiliki, maka bukan hal mustahil perdamaian yang berasal dari dan untuk serta oleh masyarakat dapat dibangun.Denagan kata lain kata dankonsep “Perdamaian” seharusnya milik menjadi milik masyarakat bukan golongan tertentu dan bukan milik pemerintah.
Membangun Perdamaian yang demikian dapat menjakau seluruh lapisan golongan masyarakat termasuk menjadi agenda Konsep “Perdamaian” yang berasal dari, untuk dan oleh masyarakat harus dimulai dan diaktifkan serta dikampanyekan, sehingga dapat menjadi roh dalam upaya membangun kembali wilayah mereka pasca Konflik Poso
Membangun perdamaian sejati pada akhirnya meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, tidak hanya membangun fisik, dan terlebih menuntut keterlibatan aktif masyarakat (rstmopm).
Dengan mempercayai bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola dan membangun perdamaian dilingkungannya dengan memaksimalkan potensi dan energy positif yang dimiliki, maka bukan hal mustahil perdamaian yang berasal dari dan untuk serta oleh masyarakat dapat dibangun.Denagan kata lain kata dankonsep “Perdamaian” seharusnya milik menjadi milik masyarakat bukan golongan tertentu dan bukan milik pemerintah.
Membangun Perdamaian yang demikian dapat menjakau seluruh lapisan golongan masyarakat termasuk menjadi agenda Konsep “Perdamaian” yang berasal dari, untuk dan oleh masyarakat harus dimulai dan diaktifkan serta dikampanyekan, sehingga dapat menjadi roh dalam upaya membangun kembali wilayah mereka pasca Konflik Poso
Membangun perdamaian sejati pada akhirnya meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, tidak hanya membangun fisik, dan terlebih menuntut keterlibatan aktif masyarakat (rstmopm).
Selasa, 07 Oktober 2008
PILKADA DONGGALA SELAMA KAMPANYE BELUM ADA PELANGGARAN BERARTI
SB Palu - Selama musim kampanye Pilkada Kab.Donggala tahun ini,Panwas Pilkada belum menemukan adanya pelanggaran berat ataupun bentuk laporan dari timsukses tertentu mengenai berbagai kecurangan.
Hal tersebut disampaikan salah satu anggota Panwas Pilkada Kabupaten Donggala, Agustinus kemarin Senin (6/10) di kantornya.
Namun demikian, bukan berarti tidak ada pelanggaran, karena beberapa Panwas Kecamatan melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh kandidat tertentu, tetapi kecurangan tersebut belummemasuki pelanggaran berat.
Meskipun begitu agustinus menyampaikan adanya pelanggaran tidak secara rinci dan detail karena semua jenis pelanggaran akan diplenokan terlebih dahulu sebelum diambil tindakan oleh Panwas guna untuk diproses lebih lanjut.
Dirinya mengaku, Panwas selama musim kampanye turun langsung ke lapangan mengawasi jalannya kampanye. Dalm tugasnya, Panwas Pilkada Kabupaten Dongala dibantu oleh Panwas di masing-masing Kecamatan.
Selain melihat secara lansung proses kampanye, Panwas juga menerima laporan dari Panwas Kecamatan.
Sementara seorang tim sukses dari salah satu dari kandidat tertentu mengakui, adanya salah satu kandidat lain mencoba coba menjelek-jelekan kandidatnya yang dikaitkan masa lalunya. Meskipun langkah kandidat tertentu tersebut adalah bentuk Black Compaign .
Selanjutnya Tim sukses tersebut berharap, agar KPU dan dan Pawas Pilkada Kab. Donggala mengambilsikap tegas atas ulah yang dilakukan oleh kandidat lain tersebut (rstmopm).
Hal tersebut disampaikan salah satu anggota Panwas Pilkada Kabupaten Donggala, Agustinus kemarin Senin (6/10) di kantornya.
Namun demikian, bukan berarti tidak ada pelanggaran, karena beberapa Panwas Kecamatan melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh kandidat tertentu, tetapi kecurangan tersebut belummemasuki pelanggaran berat.
Meskipun begitu agustinus menyampaikan adanya pelanggaran tidak secara rinci dan detail karena semua jenis pelanggaran akan diplenokan terlebih dahulu sebelum diambil tindakan oleh Panwas guna untuk diproses lebih lanjut.
Dirinya mengaku, Panwas selama musim kampanye turun langsung ke lapangan mengawasi jalannya kampanye. Dalm tugasnya, Panwas Pilkada Kabupaten Dongala dibantu oleh Panwas di masing-masing Kecamatan.
Selain melihat secara lansung proses kampanye, Panwas juga menerima laporan dari Panwas Kecamatan.
Sementara seorang tim sukses dari salah satu dari kandidat tertentu mengakui, adanya salah satu kandidat lain mencoba coba menjelek-jelekan kandidatnya yang dikaitkan masa lalunya. Meskipun langkah kandidat tertentu tersebut adalah bentuk Black Compaign .
Selanjutnya Tim sukses tersebut berharap, agar KPU dan dan Pawas Pilkada Kab. Donggala mengambilsikap tegas atas ulah yang dilakukan oleh kandidat lain tersebut (rstmopm).
Senin, 06 Oktober 2008
ANGKA KEMISKINAN DI KAB. POSO TURUN 20 PERSEN
SB Poso - Badan Pusat Statistik (BPS) Kab. Poso memperkirakan jumlah angka kemiskinan di wilayah ini mengalami penurunan hingga 20% dari jumlah penduduk miskin tahun 2005 yang mencapai 20.749 jiwa.Hal ini berdasarkan hasil verivikasi data di masyarakat yang dilakukan BPS belum lama ini. Kepala BPS Poso Jefri Wahido mengatakan, meskipun belum ada angka yang riil yang diperoleh, namun dari hasil pendataan yang dilakukan di 18 Kecamatan yang ada se Kabupaten Poso, menunjukkan hampir rata rata tingkat kemiskinan warga mengalami penurunan.
Walaupun masih dalam tahap perhitungan, tergambar masyarakat miskin se Kabupaten Poso secara umum mengalami penurunan yang diperkirakan mencapai 10 persen hingga 20 persen, kata Jefri di kantornya babarapa hari yang lalu.
Selanjutnya, BPS Kab. Poso tengah melakukan verivikasi data baru di lapangan, dan datanya harus selesai dan diterima BPS provinsi untuk selanjutnya diteruskan ke pusat pada akhir September.
Meski rata – rata setiap kecamatan jumlah warga miskin mengalami penurunan, namun ada beberapa desa justeru mengalami sedikit peningkatan seprti desa Kuku, kecamatan Pamona Utara, desa Pandiri, kecamatan Lage, dan Kelurahan Moengko Baru, kecamatan Poso Kota.
Untuk menyikapi hal ini, pihak BPS kembali melakukan pendataan di tiga wilayah tersebut. Dan hasil yang didapat ternyata ada warga yang sudah meninggal masih terdata, selain itu, masih adanya warga yang hidupnya sudah mapan juga masih tercatat sebagai warga miskin dan setelah didata kembali ternyata jumlah warga miskin di tiga desa tersebut juga mngalami penurunan, ungkap Jefri.
Dalam pendataan ini, BPS tidak mau kecolongan, sehingga data yang diperoleh di lapangan benar-benar data akurat yang mengacu kepad ke 14 kriteria warga miskin yang ditetapkan Pemerintah.
Data yang akan disajikan, tidak hanya untuk satu kriteria saja seperti BLT penerima atau semacamnya. Tapi juga bisa digunakan untuk kepentingan bantuan dana pendidikan, kesehatan, sosial, dan semacamnya (rstmopm).
Kamis, 02 Oktober 2008
PERBEDAAN SEBAGAI SUNNAHTULLAH
SB Poso - Di dalam ajaran Islam, perbedaan keragaman sosial merupakan Sunnatullah yang tidak mungkin dibendung. Oleh karena itu, kesemuanya element masyarakat harus memanfaatkan bagi kepentingan hidup bersama. Dengan perbedaan, kesemua bisa saling memahami dan melengkapi, sehingga tercipta sebuah tatanan kehidupan yang indah. Hal ini bisa dipelajari dari pelangi dan bunga bunga yang terlihat indah justeru kerena perbedaan warna-warnanya.
Hal demikian disampaikan pengkotbah Idul Fitri 1429 H, Drs.H.Faisal Mahmud di lapangan Sintuwu Maroso, Kab. Poso pada Rabu (1/10), setelah melakukan sembahyah Idul Fitri
Disamping itu, keragaman dan perbedaan dapat mendorong terciptanya sebuah interaksi dan proses silaturahmi diantara kita. Dari sinilah dinamika kehidupan dapat mendorong kita untuk semakin memperkuat ikatan sosial kita sekaligus kedekatan kita kepada sang pencipta.
Selanjut, dibalik perbedaan dan keragaman, Allah ingin menguji kita siapa diantara kita yang paling mampu mengejawantahkan firman-Nya dalam bentuk amal saleh. Berbuat baik atau amal saleh merupakan energy positip yang bisa menghadirkan kebaikan tidak hanya bagi pelaku, tapi bagi orang lain, tetapi memiliki daya yang dapat mengubah dan menggugah orang lain menjadi baik pula. Dan hal ini bisa terjadi apabila perbuatan baik tersebut dilakukan secara terus-menerus dan secara berkesinambungan sehingga tercipta atmosfir yang mendorong setiap orang untuk berbuat dalam kebaikan, berlomba-lomba untuk berbuat baik bagi orang lain, sehingga tercipta sebuah kondisi sosial yang saling mengasihi dan saling memberi.
Perbedaan bukan untuk dibesar besarkan apalagi diperhadapkan, tapi untuk dipahami dan dicarikan sinerginya sehingga menjadi sebuah kekuatan bagi kita semua. Karena ketika kita menjadik an perbedaan sebagai benih perselisihan, maka akan menjadi ancaman bagigi kita.
Faisal juga mengajak seluruh umat mayoritas di negri ini harus menempuh menjadi teladan dalam mewujudkan misi perdamaian yang dibawah oleh Islam. Kita harus mampu menghidupkan Alqur’an dan sunnah Rasul dalam tingkah laku kita, sehingga orang lain, termasuk saudara – saudara kita yang berbeda agama, suku, dan keyakinan bisa memahami makna ajaran Islam yang snagat mulia.
Banyak Alqur’an yang melarang kekerasan,pembunuhan, dan perusakan di muka bumi ini.Allah menyamakan orang yang mebunuh dan melakukan perusakan di muka buni sama dengan membunuh seluruh manusia.
Nilai-nilai kemanusiaan sangat dimuliakan didalam Islam. Oleh sebab itu, kita harus menghindari segala bentuk tindakan yang dapat memperlebar perbedaan. Hal ini dapat dimulai dengan cara menghindari perbuatan yang mungkin dalam kehidupan sehari –hari kita anggap sepele, seperi mengolok-olok, mengejek, mencela, menggunjing, dan berprasangka. Perbuatan tersebut, refleksi dari kesombongan yang akan memupuk benih perselisihan, dendam, yang berkhir dengan tindak kekerasan.
Dihadapan ribuan muslim Faisal menyampaikan, perdamaian merupakan ruh yang menggerakkan Islam , sehingga bisa diterima oleh semua ranah budaya, suku, dan golongan di alam semesta ini. Secara simbolik misi perdamaian tersebut tercermin kuat dalam shalat yang kita laksankan setiap waktu. Salam yang kita ucapkan diakhir sholat dengan menoleh ke kanan dan ke kiri merupakan bentuk komitmen tertinggi dari seorang muslim dalam mewujudkan perdamaian sosial. Kita harus menyapa orang-orang yang ada disekitar kita dengan salam dan penuh damai, demikian ajaknya.
Sebelum mengakhiri khotbahnya Faisal menyampaikan suatu kisah yang menarik, di tepi sungai Indus ketika hendak menduduki anak benua Hindia, sang penakluk dari macedonia, Alexander The Great tercampak dipembaringan akibat demam tinggi, ia telah menjarah sepertiga penduduk dunia, saat itu ia mengerang kesakitan, gara-gara digigit seekor nyamuk malaria, menjelang ajalnya ia berpesan kepada kaki tangannya, kalau akau mati masukkan jenazahku kedalam kerenda, ditutup rapat rapat, tetapi keluarkan kedua tanganku melalui dua lubang dikanan-kirinya letakkan kerenda itu pada sebuah kereta mati tebuka, arak perlahan-lahan ke negriku sendiri, agar disepanjang jalan rakyat bisa menyaksikan betapa sang penakluk yang ditakuti, yang memiliki banyak harta rampasan diakhir hayatnya tidak menggegam apa-apa kecuali sepasang tangan yang lemah. Mudah mudahan penguasa dibelakangku kelak tidak akan sombong dengan kekuasaan mereka (rstmopm).
Hal demikian disampaikan pengkotbah Idul Fitri 1429 H, Drs.H.Faisal Mahmud di lapangan Sintuwu Maroso, Kab. Poso pada Rabu (1/10), setelah melakukan sembahyah Idul Fitri
Disamping itu, keragaman dan perbedaan dapat mendorong terciptanya sebuah interaksi dan proses silaturahmi diantara kita. Dari sinilah dinamika kehidupan dapat mendorong kita untuk semakin memperkuat ikatan sosial kita sekaligus kedekatan kita kepada sang pencipta.
Selanjut, dibalik perbedaan dan keragaman, Allah ingin menguji kita siapa diantara kita yang paling mampu mengejawantahkan firman-Nya dalam bentuk amal saleh. Berbuat baik atau amal saleh merupakan energy positip yang bisa menghadirkan kebaikan tidak hanya bagi pelaku, tapi bagi orang lain, tetapi memiliki daya yang dapat mengubah dan menggugah orang lain menjadi baik pula. Dan hal ini bisa terjadi apabila perbuatan baik tersebut dilakukan secara terus-menerus dan secara berkesinambungan sehingga tercipta atmosfir yang mendorong setiap orang untuk berbuat dalam kebaikan, berlomba-lomba untuk berbuat baik bagi orang lain, sehingga tercipta sebuah kondisi sosial yang saling mengasihi dan saling memberi.
Perbedaan bukan untuk dibesar besarkan apalagi diperhadapkan, tapi untuk dipahami dan dicarikan sinerginya sehingga menjadi sebuah kekuatan bagi kita semua. Karena ketika kita menjadik an perbedaan sebagai benih perselisihan, maka akan menjadi ancaman bagigi kita.
Faisal juga mengajak seluruh umat mayoritas di negri ini harus menempuh menjadi teladan dalam mewujudkan misi perdamaian yang dibawah oleh Islam. Kita harus mampu menghidupkan Alqur’an dan sunnah Rasul dalam tingkah laku kita, sehingga orang lain, termasuk saudara – saudara kita yang berbeda agama, suku, dan keyakinan bisa memahami makna ajaran Islam yang snagat mulia.
Banyak Alqur’an yang melarang kekerasan,pembunuhan, dan perusakan di muka bumi ini.Allah menyamakan orang yang mebunuh dan melakukan perusakan di muka buni sama dengan membunuh seluruh manusia.
Nilai-nilai kemanusiaan sangat dimuliakan didalam Islam. Oleh sebab itu, kita harus menghindari segala bentuk tindakan yang dapat memperlebar perbedaan. Hal ini dapat dimulai dengan cara menghindari perbuatan yang mungkin dalam kehidupan sehari –hari kita anggap sepele, seperi mengolok-olok, mengejek, mencela, menggunjing, dan berprasangka. Perbuatan tersebut, refleksi dari kesombongan yang akan memupuk benih perselisihan, dendam, yang berkhir dengan tindak kekerasan.
Dihadapan ribuan muslim Faisal menyampaikan, perdamaian merupakan ruh yang menggerakkan Islam , sehingga bisa diterima oleh semua ranah budaya, suku, dan golongan di alam semesta ini. Secara simbolik misi perdamaian tersebut tercermin kuat dalam shalat yang kita laksankan setiap waktu. Salam yang kita ucapkan diakhir sholat dengan menoleh ke kanan dan ke kiri merupakan bentuk komitmen tertinggi dari seorang muslim dalam mewujudkan perdamaian sosial. Kita harus menyapa orang-orang yang ada disekitar kita dengan salam dan penuh damai, demikian ajaknya.
Sebelum mengakhiri khotbahnya Faisal menyampaikan suatu kisah yang menarik, di tepi sungai Indus ketika hendak menduduki anak benua Hindia, sang penakluk dari macedonia, Alexander The Great tercampak dipembaringan akibat demam tinggi, ia telah menjarah sepertiga penduduk dunia, saat itu ia mengerang kesakitan, gara-gara digigit seekor nyamuk malaria, menjelang ajalnya ia berpesan kepada kaki tangannya, kalau akau mati masukkan jenazahku kedalam kerenda, ditutup rapat rapat, tetapi keluarkan kedua tanganku melalui dua lubang dikanan-kirinya letakkan kerenda itu pada sebuah kereta mati tebuka, arak perlahan-lahan ke negriku sendiri, agar disepanjang jalan rakyat bisa menyaksikan betapa sang penakluk yang ditakuti, yang memiliki banyak harta rampasan diakhir hayatnya tidak menggegam apa-apa kecuali sepasang tangan yang lemah. Mudah mudahan penguasa dibelakangku kelak tidak akan sombong dengan kekuasaan mereka (rstmopm).
Rabu, 01 Oktober 2008
MALAM TAKBIR DI POSO
Seluruh masyarakat muslim Poso bertumpah ruah dengan mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat bahkan truk truk besar (Tronton) yang dilengkapi sound system ukuran besar ikut memeriahkan takbiran. Selain itu, group band muda mudi diatas truck juga menampilkan kebolehannya untuk bertakbir.
Dalam pawainya, sedikitnya 300 kendaraan roda empat dan ribuan kendaraan roda dua mengelilingi kota Poso yang distartkan oleh Bupati Poso Piet Inkiriwang dari Lapangan Sintuwu Maroso. Dan selama pawai takbir, dipimpin langsung Bupati dengan mobil paling depan kemudian kendaraan Kapolres dan disusul kendaraan Dandim dan kemudian diikuti mobil mobil serta kendaraan kendaraan roda dua dari masyarakat.
Selama pawai takbir, berjalan dengan tertib, semua peserta menaati aturan dan saling menjaga hal hal kemungkinan yang tidak dinginkan selama pawai. Hal ini nampak selama berpawai saling bertoleran antar sesama. Bahkan menurut beberapa masyarakat, pawai takbir tahun ini lebih ramai dari tahun tahun sebelumnya.
Pawai yang dimulai dari pukul 20.00 hingga pukul 23.00 waktu setemmpat dengan route, ruas ruas jalan Poso Kota hingga Poso Pesisir dan kembali ke Poso Kota. Waktu pawai takbir ini juga ditaati oleh masyarakat. Hal ini terlihat setelah waktu yang ditentukan oleh panitya, masyarakat kembali ke rumah masing masing dan ruas ruas jalan kota terlihat sepi kembali.
Hal yang paling menarik selama Pawai Takbir, para calon calon legislatif memanfaatkan mement tersebut. Hal ini terlihat sebagian kendaraan baik roda dua maupun kendaraan roda empat membawa lambang partai dan baliho bergambar partai dan gambar caleg.
Selain itu, masyarakat pemeluk minoritas tidak merasa takut bahkan ikut terhibur dengan menonton di pinggir jalan serta rumah rumah ibadah nasrani Gereja terjaga oleh aparat dan umat muslim. Hal ini menampakkan hilangnya rasa saling curiga kehidupan beragama di Poso.
Sementara dalam sembayang Idul Fitri pada Rabu (1/10), Pemerintah Kabupaten Poso telah memfasilatasi beberapa tempat sembahyang diantaranya di Lapangan Sintuwu Maroso, lapangan Stadion, Masjid Bonesompe dan desa Lawanga (rstmopm).
Langganan:
Postingan (Atom)